Bendung Impor Baja, Pemberlakuan SNI Wajib Diperketat

 In Pengetahuan

Kementrian Perindustrian (Kemenperin) mengantisipasi masuknya produk baja asal tiongkok yang berharga murah dan tidak sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Salah satu bentuk antisipasi tersebut dengan memberikan sanksi tegas kepada Importir atau Produsen baja yang tidak sesuai dengan SNI. Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, Elektronik Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan, di Jakarta menegaskan pemerintah terus memperketat pemberlakuan SNI wajib.

Putu mengungkapkan saat ini pasokan produk baja dari tiongkok membanjiri pasar dan melihat saat ini banyak ditemukan pelanggaran SNI yang sudah melampaui batas sehingga perlu tindakan tegas. Apabila perusahaan baja sudah diberi peringatan dua kali, namun tetap melakukan pelanggaran, produksinya akan dibekukan hingga tiga bulan,

Lebih lanjut, Putu mengatakan tindakan tegas ini harus dilakukan di samping mengapresiasi kepada industri yang telah mengikuti aturan serta mencegah membanjirnya produk dari luar negeri. Dia menjelaskan untuk menjaga iklim industri besi baja tetap kondusif, pemerintah telah menerbitkan kebijakan SNI wajib untuk produk besi baja, tata niaga impor besi atau baja, dan trade remedies. “Kita akan bendung sekuat tenaga agar produk baja yang tidak ber-SNI tidak masuk ke pasar kita.” Kata Putu.

Dirjen menyebutkan selama ini produksi baja tiongkok menguasai 50% pasar baja dunia. Dikatakan, oversupply baja di tiongkok sudah termasuk kronis sehingga memukul harga baja dunia dan beberapa perusahaan baja besar sekarang jadi merugi. Di tengah situasi tersebut, pemain baja tiongkok mencari pasar baru untuk melempar kelebihan produksi. Kondisi ini berpotensi memunculkan praktik banting harga alias dumping. Pemulihan pasar dan harga baja dunia, menurut Putu, diperkirakan membutuhkan waktu lama. Semua bergantung pada pemulihan ekonomi tiongkok. Karena itu, dia meminta jajarannya untuk tetap waspada terhadap masuknya baja tiongkok secara ilegal.

Sementara itu, kalangan industri baja nasional menyambut baik rencana pemerintah membendung derasnya impor baja dengan memperketat pemberlakuan SNI wajib dan menetapkan harga minimum produk baja impor. Langkah ini bisa meningkatkan utilisasi industri baja nasional, sehingga mengurangi kerugian. Saat ini, utilisasi industri baja hulu mencapai 30%, sedangkan baja hilir 50%.

Direktur Pemasaran PT. Krakatau Steel Tbk (KS), Dadang Danusiri, mengatakan pengelolaan impor baja penting dilakukan mengingat oversupply baja dunia sangat besar. Tahun ini, World Steel Dynamics memperkirakan kelebihan pasokan baja dunia mencapai 400 juta ton, dimana tiongkok berkontribusi 178 juta ton. Permintaan baja tiongkok saat ini cenderung turun. Akibatnya, produsen baja Negeri Tirai Bambu mengalihkan fokus ke pasar internasional, yang ditunjukkan oleh kenaikan ekspor baja sebesar 32,1% pada September 2015.

Sebagai contoh, produsen baja Amerika Serikat, Uni Eropa, Korea Selatan, Australia, Malaysia, Thailand, dan India telah mendapatkan perlindungan dari pemerintah setempat melalui berbagai instrument perlindungan perdagangan. Dadang melanjutkan jika kondisi oversupply terus terjadi, industri baja domestik akan semakin merugi. Output ekonomi nasional akan mengecil dengan digantikannya produk domestik oleh produk impor dan akan menyebabkan pemutusan hubungan kerja puluhan bahkan ratusan ribu orang, baik tenaga kerja secara langsung maupun tidak langsung.

Menurut Dadang, impor baja tidak hanya datang dari negeri Tiongkok, melainkan juga dari Jepang, Korsel, dan Vietnam. Baja dari jepang dan korsel banyak masuk ke pasar domestik untuk flat product baik itu Hot Rolled Coil (HRC) maupun Cold Rolled Coil (CRC), sedangkan baja tiongkok masuk dalam bentuk long product.

Recommended Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search