Industri Kreatif Berbasis IT, Musuh atau Kawan Bisnis Anda ?

 In Pengetahuan

Kemarin (22 maret 2016) banyak media heboh memberitakan demo ribuan pengemudi taksi konvensional yang menuntut pemblokiran aplikasi taksi online Grab dan Uber. Bahkan masih belum hilang dari ingtatan kita beberapa bulan yang lalu hal yang sama juga terjadi pada aplikasi GoJek dan GrabBike bahkan gesekan antara pengemudi Ojek Pangkalan dengan Pengemudi GoJek hingga menimbulkan korban jiwa. Belum lagi kasus-kasus kriminalitas yang memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi juga semakin sering kita dengar di berbagai media. Tentu ini menjadi perhatian kita bersama bahwa perkembangan teknologi sudah sedemikian massif memasuki setiap sendi kehidupan kita.

Apabila kita melihat lebih jauh, terjadinya gesekan antara pengemudi angkutan berbasis aplikasi online dengan angkutan konvensional salah satu diantaranya adalah terkait kemudahan konsumen untuk menggunakan armada taksi maupun ojek dengan aplikasi berbasis online. Sekarang mari kita coba melihat bisnis yang kita jalankan hari ini. Apakah sudah sedemikian runcing persaingan dalam bisnis kita? Apakah mindset bisnis dengan memanfaatkan teknologi informasi sudah menjadi salah satu pilar pengembangan bisni kita kedepan ? Siapkah kita seandainya bisnis yang hari ini kita jalankan dan sudah kita rintis bertahun-tahun esok hari atau bulan depan tiba-tiba kolaps karena ada aplikasi online yang hadir dan menggerus bisnis kita ?

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan jumlah pengguna internet sangat besar. Potensi pertumbuhan di tahun-tahun berikutnya masih sangat besar, mengingat secara demografi mayoritas pengguna internet berusia muda, yaitu usia 20-24 tahun sebesar 11,6%, usia 25-29 tahun 14,2%, usia 30-34 tahun sebesar 11,8%. Usia-usia tersebut adalah DIGITAL NATIVE, yaitu mereka yang lahir dan besar dimana era digita (internet) sudah ada. Sebagai seorang pebisnis hal tersebut merupakan sebuah opportunity bagi perkembangan bisnis yang sedang kita jalankan. Oleh karena itu banyak investor-investor asing menggerojok dananya ke Indonesia untuk membangun bisnis IT di Indonesia atau menyuntik perusahaan-perusahaan startup IT dengan dana melimpah.

pengguna-internet-di-indonesia-artikel-bpc-hipmi-surabaya

 

Data : Indonesia Digital Lanscape 2015 (AdPlus.co.id)

 demografi-pengguna-internet-di-indonesia-artikel-bpc-hipmi-surabaya

Data : Indonesia Digital Lanscape 2015 (AdPlus.co.id diambil dari APJII)

Tentu kita masih ingat bahwa di tahun 2014 tokopedia di suntik modal asing senilai 100 Juta USD, bahkan pada tahun 2015 Lippo Group menggerojok dana sebesar 500 Juta USD untuk MatahariMall.com . Tentu hal tersebut menunjukkan opportunity bisnis berbasis IT yang sangat besar dan memiliki pangsa pasar yang potensial. Para Investor tersebut tentu bukan orang yang tidak waras yang dengan sertamerta mau menggerojok perusahaan yang belum ganap berumur 10 tahun tersebut dengan dana yang sangat besar. Melihat potensi besar market Indonesia, sudah menjadi keharusan bahwa pelaku bisnis di Indonesia memiliki mindset IT (IT Minded) dalam mengembangkan bisnisnya kedepan.

data-investor-artikel-bpc-hipmi-surabaya

 

Sumber : https://id.techinasia.com/infografis-investasi-startup-indonesia-2015

Namun demikian, perlu kita sadari bahwa ada konsekuensi yang harus kita tanggung dari perkembangan IT di Indonesia. Yaitu terkait dampak sosial. Bisa kita bayangkan apabila kita hanya memilikirkan implementasi teknologi pada bisnis kita tanpa memperhatikan dampak social yang akan terjadi.  Ingat, masyarakat Indonesia sangat heterogen dengan berbagai latarbelakang dan socio cultural yang juga sangat beragam. Beberapa konflik yang terjadi diatas adalah dampak-dampak sosial yang tidak terhindarkan. Bukan sebuah hal yang bijak bila kita berpendapat bahwa ini salah Negara karena aturanya tidak fleksibel atau salah masyarakat kita yang masih kolot sehingga tidak mudah menerima perkembangan teknologi.

Mari kita coba berada dalam dua perspektif yang berbeda. Pertama pebisnis yang memanfaatkan IT dan kedua, pebisnis yang terdampak dari pemanfaatan teknologi informasi. Sebagai pebinis yang memanfaatkan IT tentu kita senang karena potensi pasar di Indonesia sangat besar dan bisnis berbasis IT akan sangat mudah untuk menjangkau pasar Indonesia yang sangat luas tersebut. Sehingga bisnis berbasis IT adalah masa depan. Sedangkan bisnis konvensional adalah masa lalu, dengan begitu bisa jadi kita akan sangat agresif untuk penetrasi dan ekspansi ke market.

Pada saat yang sama perspektif kedua akan merasa bisnis terus mengalami perlambatan dan menuju “akhir”. Saya ambil contoh, dalam dunia nyata e-commerce semacam Lazada, Zalora atau kita yang berjualan online terus agresif mengembangkan market. Namun pada saat bersamaan, pebisnis lain yang memiliki toko fashion dengan konsep konvensional omsetnya terus mengalami penurunan dan terus menurun, bahkan tak sedikit yang mulai gulung tikar.

Disinilah saatnya kita memiliki 2 mindset yang sangat penting untuk mengakomodir perubahan yang sangat cepat khususnya terkait perkembangan IT, yaitu :

pertama mindset kolaborasi, kedua minset kesetaraan.

Mengapa demikian ? Mindset kolaborasi sangat penting bagi kita untuk tumbuh bersama. Tentu kita tidak mau saling sikut dengan sesama pebisnis, apalagi bila skala bisnisnya berbeda. Bisa jadi salah satu bisnis akan mati, dan hal tersebut sangat tidak baik bagi pertumbuhan dan iklim bisnis, apalagi bagi para pebisnis pemula dan pebisnis muda. Mindset kedua adalah kesetaraan, kedengaranya memang klasik, tapi ini sangat penting dan mendasar untuk daya tahan bisnis kita. Sebagai contoh, kita yang menjalankan bisnis toko fashion konvensional harus memenuhi sekian banyak ijin dan persyaratan lainya yang menjadi regulasi bisnis, belumlagi retrebusi dan pajak . Namun disaat yang sama ada banyak online store yang memiliki omset sangat besar namun karena berbagai hal mereka tetap dapat beroperasi tanpa memenuhi ijin operasi, atau regulasi lainya, bahkan tidak membayar pajak, retrebusi atau sejenisnya.  Apalagi bila kompetitor tesebut adalah perusahaan asing atau yang didanai asing dengan mudah mencaplok market kita tanpa memenuhi regulasi yang ada dengan alasan bahwa bisnis mereka berjalan secara online tanpa memiliki toko fisik.

Hal-hal terkait kesetaraan  regulasi menjadi komponen utama yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah agar konflik-konflik di lapangan tidak lagi terjadi. Pengamat kebijakan public Agus Pambagio dalam sebuah wawancara di MetroTV (22 Maret 2016) menyampaikan bahwa harus ada kesetaraan regulasi antara bisnis berbasis aplikasi online dan konvensional dalam hal ini antara taksi konvensional dengan taksi berbasis aplikasi, misalnya terkait kepemilikan kendaraan harus dimiliki oleh perusahaan berbadan hukum, pengemudi taksi harus memiki SIM A umum, bukan SIM A pribadi, serta regulasi tranportasi umum lainya. Namun disisi lain taksi konvensional harus mampu memberikan kemudahan dan kenyamanan layanan bagi konsumen untuk menggunakan jasa taksinya seperti halnya taksi berbasis aplikasi.

Sudah seharusnya hal-hal terkait kolaborasi dan kesetaraan menjadi perhatian bagi segenap Asosiasi – asosiasi pengusaha untuk tetap menjaga iklim usaha agar terus sehat. Tentu kita tidak mau bahwa businessman kill each other menjadi hal yang lumrah dalam persaingan. Dalam dunia bisnis seperti saat ini dimana teknologi informasi begitu massif memasuki hampir semua sektor bisnis,  kita sangat perlu berkolaborasi dan membangun kesetaraan. Kita perlu terus mendorong pemerintah untuk memperbaiki regulasi agar kesetaraan bisnis terus terjadi. Perlu kita sadari bersama bahwa dunia terus berubah, dan perubahan sangat cepat terjadi. Sehingga bisa kita bayangkan seandainya bisnis yang hari ini kita jalankan akan dengan mudah digerus oleh teknologi. Teknologi bagi masa depan adalah sebuah keharusan, siapapu yang tidak mengakomodasi teknologi hanya tinggal menunggu waktu untuk digilas oleh kemajuan tenologi tersebut.

Nurul-Fatkhurrokhim-M-artikel-bpc-hipmi-surabaya

Nurul Fatkhurrokhim , Wakil Sekertaris Umum 3 BPC HIPMI Surabaya

Praktisi Digital Branding dan Pemerhati Media Sosial
Email : menapakbumi@gmail.com / fathur@askara.co.id
Memiliki usaha di bidang pembuatan konten dan digital branding dengan bendera Askara Catha Kasvaka. Lebih detail bisa mengunjungi www.askara.co.id

Recommended Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search